Senin, 02 September 2013

aku bermimpi

ini tentang sebuah mimpi. bermimpilah, karena Tuhan akan mememuluk mimpimu (quote dari novel sang pemimpi). 
aku bermimpi menjadi wanita sholehah
aku bermimpi membuatkan mesjid untuk orangtua dan kakek nenekku
aku bermimpi umroh di bulan Ramadhan dengan keluargaku
aku bermimpi menjadi mahasiswa di perguruan tinggi terbaik 
aku bermimpi menjadi mahasiswa berprestasi
aku bermimpi bisa menjelajahi dunia
aku bermimpi membangun yayasan yatim piatu
aku bermimpi menjadi pengajar di pelosok Indonesia
aku bermimpi menjadi relawan di daerah perang
aku bermimpi membelikan mobil untuk orangtuaku
aku bermimpi menjadi seorang hafidzah 
aku bermimpi menghabiskan sisa umurku di Mekah Al-Mukaromah
aku bermimpi berjabat tangan dengan saudara-saudara muslim di negara timur sana
aku bermimpi menjadi istri dari seorang suami yang sholeh, yang cinta terbesanya hanya untuk Allah
aku bermimpi memiliki anak-anak yang lucu 
aku bermimpi bisa memajukan pertanian di Indonesia
aku bermimpi menjadi teman yang baik setiap orang yang aku temui
aku bermimpi menjadi orang yang cerdas dan bisa menolong orang lain dengan ilmu yang kumiliki
aku bermimpi memiliki perusahan besar yang memberikan pekerjaan untuk ribuan karyawan
aku bermimpi ke Jepang
aku bermimpi ke Belanda
aku bermimpi ke Inggris
aku bermimpi ke Palestina
aku bermimpi ke Mesir
aku bermimpi ke Jerman
aku bermimpi menjadi ahli genetika
aku bermimpi bisa memperoleh beasiswa dalam dan luar negeri
aku bermimpi menjadi menuntut ilmu di ITB 
aku bermimpi menjaga adikku dan menbimbingnya menjadi laki-laki hebat
aku bermimpi bersedekah milyaran
aku bermimpi menjelahi Indonesia
aku bermimpi menjadikan masa mudaku penuh karya
aku masih bermimpi....
mimpiku adalah harapanku. membuatku selalu ingin menjadikan mimpi-mimpi itu nyata 

Selasa, 07 Mei 2013

Tere Liye : Berpikir Panjang

Dalam dunia perbankan, ada sebuah wisdom yang jangan coba dilanggar, atau perusahaan kita bisa mengalami masalah serius menjurus bangkrut. Yaitu: jangan pernah menggunakan pinjaman jangka pendek untuk membiayai investasi jangka panjang. Karena itu nggak matching. Kita ingin membangun pabrik, tidak punya uangnya, lantas pinjam ke bank, hanya dikasih jangka waktu setahun. Itu berbahaya jika tetap digunakan. Pabriknya bahkan belum jadi setahun, uangnya sudah harus dikembalikan. Nah, berbeda kasus jika pinjamannya jangka panjang, obligasi sepuluh tahun misalnya. Pabriknya sudah beroperasi, sudah menghasilkan, uangnya bisa dikembalikan. Tidak masalah.

Sebenarnya, dalam hidup kita, wisdom serupa ini berserakan di mana-mana, tidak hanya di text book manajamen keuangan. Apa yang sedang kita lakukan? Apa yang ingin kita lakukan? Mau kemana? Mau ngapain? Selalu saja dalam kaca mata waktu konteksnya dua, jangka panjang, atau jangka pendek.

Pendidikan misalnya, orang2 yang terbiasa berpikir pendek, hanya menerjemahkannya dengan ijasah, lulus, dapat kerja. Tapi orang2 yang berpikir panjang, menganggap pendidikan adalah proses tiada henti memperoleh ilmu yang bermanfaat. Never ending story. Pekerjaan contoh berikutnya, orang2 yang terbiasa berpikir pendek, maka hanya naksir gaji dan materi, tapi orang2 yang berpikir panjang, menilai pekerjaan sebagai profesi jangka panjang yang memberikan kebahagiaan. Itu benar, siapa sih yang tidak mau jalan pintas? Pasti mau semua. Tapi jangan lupakan sisi jangka panjangnya. Boleh jadi, jalan pintas yang kita ambil, menguntungkan di momen2 sekarang, tapi seiring waktu berlalu, kita sebenarnya semakin rugi, kehilangan daya saing, bahkan benar2 tertinggal jauh, hanya bisa menonton tidak bisa melakukan apapun lagi.

Berpikir panjang juga memberikan pemahaman baik atas situasi tertentu. Hei, kita boleh saja hepi sekarang, senang melakukan sesuatu yang melenakan, seolah bahagia benar, tapi jangka panjang kita rugi sendiri. Hei, kita boleh saja merasa lebih keren sekarang, menganggap orang lain kuper, nggak gaul, tertawa bahak, tapi jangka panjang, boleh jadi kitalah yang terdiam, ditertawakan banyak orang.

Maka, sungguh penting sekali memikirkan apakah kita sedang mengurus keperluan jangka panjang kita, atau hanya fokus pada hal2 bersifat temporer. Sekali kita yakin bahwa itu bermanfaat untuk masa depan kita, maka jangan pedulikan lagi omongan orang lain, pun termasuk bisik sesat dan ragu2 dari diri sendiri. Kitalah yang tahu persis isi hati kita, bukan? Termasuk rencana2 kita? Buahnya, insya Allah, akan kita petik kelak, sepanjang tekun dan bersabar.

Berpikir pendek, berpikir jangka panjang ini, dalam sebuah pribahasa klasik pernah ditulis dengan sangat baik sbb: jika rencana kita hanya hitungan bulan, cukup tanam saja padi. Jika rencana kita hitungan puluhan tahun, maka mulailah menanam pohon. Tapi sungguh, jika rencana kita adalah ratusan tahun, maka mulailah memberikan pendidikan yang baik bagi siapapun, termasuk bagi diri sendiri.

Maka semoga kita tidak termasuk golongan orang2 yang tertipu oleh indahnya godaan kepentingan/kesenangan sesaat. Lupa janji masa depan yang lebih lama, awet dan tidak bisa diulang lagi.

Tere Liye: Kenapa Tidak

Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme sederhana: jika orang berbohong, maka hidungnya akan bertambah panjang. Macam Pinokio itu, semakin banyak bohongnya, semakin panjang hidungnya. Keren bukan? Dengan begitu, tidak akan ada yang coba-coba berdusta.

Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme simpel: jika orang mencuri, maka kupingnya akan semakin lebar. Semakin sering dia mencuri, macam mencuri waktu kerja, asyik main internetan pas jam kerja, kupingnya semakin lebaaaar, sudah kayak jendela rumah, atau kayak daun talas, gede banget. Keren, kan? Dengan begitu, tidak akan ada yang coba-coba mencuri.

Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme kecil: jika orang bergunjing, suka menjelek2an, suka berkata jorok, tukang fitnah, dsbgnya, bibirnya tambah memble. Semakin sering, maka bibirnya dower ampun2an, sampai menjuntai ke lantai saking dowernya. Yakin deh, orang2 pasti kapok, nggak akan berani coba2.

Kenapa?

Atau, kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme canggih: jika orang berbuat jahat, macam pemerkosa, tiba-tiba saja petir menyambar dari langit, membakar tubuhnya hingga jadi abu. Atau jika ada orang yang membunuh, merampok, tiba-tiba tanah terbelah, dan dia ditelan mentah2, musnah sudah dari muka bumi? Apa susahnya bagi Tuhan yang maha perkasa menciptakan mekanisme itu? Tapi kenapa tidak ada?

Jawaban persisnya saya tidak tahu. Tapi saya menggigit kuat2, bahwa Allah selalu punya rencana terbaik bagi semua orang. Pertanyaan2 ini tidak dalam rangka mempertanyakan banyak hal lantas kehilangan esensi iman, pertanyaan2 ini justeru menumbuhkan kesadaran betapa tingginya Allah, dan memperkokoh keyakinan dalam hati. Menambah kecintaan atas agama ini.

Maka, jawabannya, mungkin karena Allah memberikan kita semua kesempatan untuk berubah. Allah menutup aib kita, menutup dusta kita, maksiat, kebiasaan buruk kita, agar kita semua sempat berubah. Sungguh kasih sayang Allah itu tidak terhingga. Coba lihat, kita menantang Allah, dengan sombong sekali melakukan kejahatan, nyatanya tidak diambil oksigen di sekitar kita, manusia tetap bisa bernafas. Kita munafik sekali, barusan korup, kemudian shalat santai2 saja, nyatanya, Allah tidak membuat jantung kita berhenti berdetak. Padahal, bukankah kita seperti sedang mengolok2 Allah, memangnya Allah tidak bisa melihat kita korup barusan seperti Allah melihat kita shalat?

Maka, jawabannya, mungkin karena Allah selalu menyayangi kita semua. Pintu untuk memperbaiki selalu terbuka, selalu, selalu, dan selalu. Semoga kita tidak terlambat melakukannya. Karena sekali pintu itu sudah tertutup. Aduhai, sungguh azab dari langit itu pedih sekali. Lebih pedih dibanding disambar petir menjadi debu, lebih pedih dibanding ditelan bumi. Dan jelas, tidak ada orang yang bisa lari menghindar.

Tere Liye : Jatuh Hati

Ketika kita marah dengan Tuhan, benci sekali atas takdir Tuhan, bilang Tuhan tidak adil, apakah kita seketika berhenti bernafas? Diambil oleh Tuhan oksigen di sekitar kita? Apakah kita berhenti minum? Diambil seketika oleh Tuhan H2O itu di sekitar kita? Tidak, kan? Padahal mudah saja.

Itulah kasih sayang Tuhan.

Ketika kita sedih sekali, sedih sesedihnya atas banyak hal, kecewa, kecewa sampai mentok mentoknya, apakah lantas jantung kita berhenti berdetak? Ngambek jantungnya, karena kita sedang sedih. Ngambek paru-paru kita, karena kita sedang kecewa. Tidak, kan? Padahal jelas, jantung dan paru-paru, pun termasuk kedipan mata, itu tidak kita kendalikan, itu 'sistem otomatis' hadiah dari Tuhan. Mudah saja kalau Tuhan 'bosan' melihat kita sedih terus, nggak maju2, disuruh berhenti semuanya. Tapi tidak, kan?

Itulah kasih sayang Tuhan.

Di dunia nyata, jika kalian membuat orang berkuasa tersinggung, maka bisa berabe. Di perusahaan misalnya, bisa dipecat, diusir. Di sekolah, bisa di DO, disuruh keluar. Atau tersangkut urusan dengan pihak berwajib, bikin mereka marah semarahnya, wah, ujungnya bisa dimasukkan ke kerangkeng besi. Atau yang simpel, melanggar peraturan page ini, langsung saya kandangkan, tidak bisa komen lagi. Itulah kasih sayang manusia, terbatas, bahkan yang lapang hatinya, luas pemahamannya, tetap terbatas.

Tidak ada yang lebih menakjubkan dibandingkan menafakuri hakikat 'kasih sayang Allah'. Sungguh, kasih sayangnya menggapai sudut-sudut gelap, orang2 jahat, bahkan para perusak di muka bumi sekalipun. Dan kasih sayangnya, tidak terbilang, tidak terkatakan. Kita semua tahu, salah satu turunan dari sifat kasih sayang adalah memberi. Maka lihatlah begitu banyak yang diberikan Allah kepada kita, gratis, tanpa imbalan. Lantas apakah kita sudah membalasnya? Entahlah.

Saya kadang tidak bisa menulis hal ini panjang lebar, karena kadang tiba2 saja saya kehabisan energi. Sesak oleh sesuatu. Maka akan saya tutup saja catatan ini dengan hal simpel: Hei, kita bisa jatuh hati pada orang yg terus menerus memberikan kebaikan. Sekeras apapun batu itu, tetap berlubang oleh tetes air terus menerus. Padahal apalah arti tetes air kecil dibanding batu. Kita bisa jatuh hati pada orang yg terus menerus peduli pada kita. Sesulit apapun meruntuhkan gunung perasaan, satu persatu dicungkil badannya, pasti akan rubuh pula gunungnya.

Kita jatuh hati karena itu bukan?

Lantas, apakah kita tidak jatuh hati pada yg maha pemberi kebaikan, duhai, setiap hari hidup kita diberi oksigen utk bernafas, air minum utk melepas dahaga, kesehatan, dan tak terhitung nikmat lainnya. Lantas, apakah kita tidak jatuh hati pada yg maha terus menerus peduli, aduhai, setiap hari kita dijaga dari marabahaya, dilapangkan jalan, dijauhkan dari penghalang, dan tak terhitung kepedulian lainnya, siang malam.

Tidakkah kita jatuh hati pada Tuhan kita?

*Tere Lije

Jumat, 29 Maret 2013

Karangan Essay Karyaku

Memilih Peran untuk Tetap Hidup

Rikha Nurhasanah
XII IPA 4 SMAN 1 Baleendah

Setelah menamatkan pendidikan SMA/MA/SMK/Sederajat, artinya siswa harus memilih jalan menuju masa depannya. Siswa di tawarkan pada dua pilihan, yaitu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau memanfaatkan ijazah SMA-nya untuk melamar pekerjaan. Ini adalah dua pilihan yang tidak pernah absen untuk ditawarkan dan diantara dua pilihan itu seolah-olah ada  jurang pemisah yang membatasi antara orang kuliahan dengan pekerja tamatan SMA. Dari sini muncul sumber permasalahan, dimana anak manusia dihadapkan pada berbagai pandangan yaitu mempertahankan gengsi, menuruti kemauan orangtua, menjadi tulang punggung keluarga, menjalani hidup sesuai keinginan pribadi, mengikuti teman, meningkatkan taraf  hidup dan berbagai pandangan rumit lainnya. Namun, secara holistik semua pandangan antara dua pilihan itu akan mengerucut pada satu tujuan yaitu memenuhi kebutuhan hidup dengan melaksanakan peran tertentu di masa depan, atau dengan kata lain untuk mencari materi dan memperoleh kedudukan.
Dalam mencari materi tentunya setiap orang akan dihadapkan pada berbagai pilihan peran seperti menjadi  pengajar, pengusaha, pegawai swasta, ahli tehnik, pegawai negeri, tenaga kesehatan, pejabat, akuntan, konsultan, dan berbagai pilihan peran lainnya. Berkaitan dengan peran kehidupan, kebanyakan orang belum memiliki visi hidup yang jelas sehingga hal ini akan berdampak pada peran apa yang akan diambilnya. Tujuan hidup saja belum jelas, lalu bagaimana akan memutuskan untuk memilih peran dalam kehidupan?
Menanamkan tujuan hidup dengan jelas, sangat penting untuk dilakukan oleh setiap orang. Apabila seseorang telah memiliki tujuan hidupnya, maka dengan mudah ia dapat menentukan peran yang sesuai dengannya. Bimbingan dan pengarahan dari semua pihak sangat diperlukan untuk membatu  dalam menentukan peran seseorang dimasa depan. Namun tak sedikit bimbingan dan pengarahan dari orang tua kepada anaknya bersifat memaksa sehingga si anak wajib menuruti peran yang dipilihkan orang tuanya dengan alasan “masa depan cerah” jika memilih itu. Hingga akhirnya hal ini akan menyebabkan rasa frustasi dan kebuntuan dalam berfikir pada si anak. Biarkan anak menentukan perannya sendiri, karena paksaan akan “melumpuhkan” anak untuk  mengembangkan potensi besar yang dimilikinya.
Peran di masa depan memang berkaitan erat dengan materi yang akan di peroleh. Tetapi, bila materi dijadikan landasan dalam memilih peran tentunya ini akan berdampak buruk. Akhirnya, bukan menambah lapangan pekerjaan tetapi mengakibatkan pengangguran karena persaingan yang ketat di bidang tersebut. Penting untuk diluruskan bahwa peran yang baik bukan dilihat dari seberapa banyak materi yang akan diperoleh, tapi dilihat dari kemampuan dan kesenangan seseorang dalam melaksanakan peran itu. Apabila peran itu dilakukan dengan sepenuh hati atas dasar panggilan jiwa maka hal ini akan memberi feed back positif terhadap kehidupan seseorang dan lingkungannya. Sehingga perlu di garis bawahi bahwa dalam memilih peran harus berlandaskan pada passion, minat dan keahlian seseorang dalam bidang peran itu. Bukan hanya materi yang harus terpenuhi, tapi kebutuhan jiwa juga sama pentingnya dan tidak boleh untuk dikesampingkan.
Apabila seseorang telah menetapkan tujuan hidupnya berdasarkan passion dan keahliannya maka ia akan memilih peran yang sesuai dengan dirinya. Bukan itu saja, ia akan mampu untuk mengsinergikan pontensi-potensi besar dalam dirinya sehingga akan muncul kreavitas-kreativitas dan inovasi-inovasi baru yang akan membawa kemajuan dalam hidupnya, dan bidang peran yang dilakoninya. Banyak orang sukses di dunia ini yang menemukan jati diri yang sesungguhnya setelah ia melakoni hal yang disukainya.
Dalam Al- Qur’an Surah Adz-Dzariat ayat lima puluh enam, Allah berfirman bahwa tidaklah Ia menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Memilih peran kehidupan berarti memilih untuk melaksanakan ibadah. Inilah mengapa seseorang harus memilih perannya berdasarkan hal yang ia sukai agar pekerjaannya itu bernilai ibadah. Bukankah memenuhi nafkah keluarga adalah ibadah? Dan menghasilkan karya-karya yang berguna juga ibadah? Sebagai manusia kita tak akan terlepas dari semua ketentuan yang Tuhan tetapkan. Bekerja dan beribadah secara implisit memiliki makna yang sama.
Masih mengakar dalam pemikiran masyarakat bahwa peran yang bagus akan diperoleh jika menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Pendidikan memang memegang peran penting dalam menunjang karir seseorang, tapi hakikatnya itu tidak mutlak. Bagaimana seseorang menentukan sikapnya dalam membawa bahtera kehidupannya itu yang terpenting. Sudah tidak asing lagi didengar bahwa ada lulusan sarjana yang pekerjaanya berlawanan dengan disiplin ilmu yang digelutinya di bangku kuliah. Ada pula orang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi tapi berhasil menjadi pengusaha yang sukses. Ya, sekali lagi semua ini tergantung bagaimana setiap orang menyikapi hidupnya. Pemikiran manusia yang kreatif dan dinamis selalu menghasilkan tindakan-tidakan yang tak terduga.
            Setiap orang adalah arsitek untuk masa depannya. Dia yang menetukan, merancang, membangun, memilih komponen-komponen terbaik untuk hidupnya, dan dialah yang akan hidup dalam kehidupan yang dibangunnya. Menemukan peran yang sesuai berarti memilih untuk tetap hidup dalam hidup yang sebenarnya. Seorang pemenang adalah ia yang berhasil menemukan jati dirinya. Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. 

Rabu, 27 Maret 2013

Percikan Motivasi Jelang UN

bismillah, teman-teman, saya akan menularkan motivasi yang ditulis oleh mas Setia Furqon Kholid, seorang entrepreneur muda yang sangat luar biasa. beliau menulis ini untuk kita, khususnya siswa yg akan menghapi UN (hari ini: H-17 UN SMA). simak baik-baik, dan the most importan is action.  

Untuk Sahabat-Sahabatku yang akan menghadapi Ujian,
Keep fighting ya! Semoga mendapatkan nilai terbaik dan mendapatkan apa yang dicita-citakan.

BERMIMPI 2X LEBIH TINGGI
BERDO'A 2X LEBIH KHUSYU
BELAJAR 2X LEBIH GIGIH
BEKERJA 2X LEBIH CERDAS

Siaaappp...????

*Silahkan dibagikan, semoga bisa menularkan semangat untuk Sahabat lainnya. Biar bisa sukses bersama!



oh ya, kita saling mendo'akan ya agar bisa memanfaatkan waktu yang tersisa ini dengan sebaik mungkin supaya hasilnya sesuai dengan yg kita inginkan dan di ridhoi Allah. do'a juga agar  proses UN diseluruh Indonesia dilaksanakan dengan lancar, mudah, dan tentunya berkah :) selamat dan sukses calon pemimpin masa depan :D maju bersama dalam kemuliaan. ALLAHU AKBAR

Sabtu, 23 Maret 2013

Kisah Burung Ababil



ABABIL, burung yang memporak-porandakan tentara Abrahah


Pernahkah Anda mendengar burung yang bernama Ababil? Jika Anda seorang muslim sejati pasti tidak asing lagi terhadap nama burung yang satu ini. Ia bukan jenis burung yang spesiesnya ada di dunia, bukan pula jenis burung yang penciptaannya untuk melengkapi keindahan dunia. Akan tetapi dia (Ababil) sengaja di ciptakan Allah untuk menghancurkan kesombongan, keserakahan dan arogansi seorang panglima perang yang paling ditakuti pada masanya itu.

Dialah Abrahah, panglima perang negeri Yaman yang amat termahsyur karena kebengisan dan kekuatan pasukannya. Akan tetapi, sekuat apa pun bala tentara manusia, tidak akan pernah sanggup melawan kekuatan bala tentara Allah. Bala tentara Allah itu salah satunya adalah Ababil.

Inilah kisah yang sangat mengerikan itu, kisah yang terjadi pada masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad, Rasul akhir zaman. Kisah ini bermula ketika Abrahah merasa iri terhadap kota Mekkah yang yang di dalamnya terdapat ka'bah atau Baitullah yang selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang Arab yang hendak melakukan ibadah haji setiap tahun. Pada masa Jahiliah, tata cara ibadah haji tidak seperti pada masa Islam sekarang ini, dan tujuannya pun bukan untuk menyembah Allah, melainkan berhala-berhala sembahan mereka yang terdapat di sekitar ka'bah.

Ia mempunyai hasrat yang besar ingin menghancurkan ka'bah dan mengalihkan peribadatan orang-orang Arab ke Yaman, yaitu sebuah gereja besar yang didirikan oleh Abrahah. Sebelum melakukan penyerangan ke Mekkah, ia terlebih dahulu mengirimkan seorang utusan untuk memberi tahu maksud dan keinginannya. Utusan itu menganjurkan bagi penduduk Mekkah agar mereka beribadah haji di Yaman saja. Jika tidak, maka Ka'bah akan dihancurkan. Rupanya ancaman utusan Abrahah tidak di hiraukan oleh penduduk Mekkah, mereka tetap saja beribadah di Mekkah.

Karena pembangkangan penduduk Mekkah, akhirnya Abrahah benar-benar marah dan memerintahkan seluruh pasukannya untuk segera bersiap-siap menyerang Mekkah dan menghancurkan Ka'bah. Pasukan Abrahah ini memiliki peralatan perang yang sangat lengkap, baju besi dan gajah-gajah yang akan di pergunakan untuk merobohkan ka'bah. Apalah arti kekuatan manusia bila berhadapan dengan gajah-gajah!! Sungguh amat kuat, tapi saksikanlah, sebentar lagi bala tentara Allah yang jauh lebih kuat dari pasukan Abrahah akan menghancurkan Abrahah dan pasukannya tanpa sisa. Abrahah memberitahukan tujuan penyerangannya bukan bermaksud ingin berperang, melainkan hanya ingin menghancurkan Ka'bah. Kala itu penduduk Mekkah yang dipimpin oleh Abdul Muthallib tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikan niat Abrahah. Tidak ada pilihan lain kecuali pasrah dan menyerah.

Beberapa saat sebelum penghancuran Ka'bah, Abrahah memberi waktu kepada seluruh penduduk Mekkah untuk segera meninggalkan Mekkah dan mengungsi. Abdul Muthollib menginstruksikan kepada kaumnya untuk segera berlindung dan mengungsi dibalik bukit-bukit disekitar Mekkah.

Ada kisah tersendiri mengenai Abdul Muthallib dan Abrahah. Dalam perjalanan ekspansi pasukan Abrahah menuju penghancuran Ka'bah, ternyata Abrahah telah merampas unta-unta milik penduduk Mekkah dan sekitarnya, termasuk unta milik Abdul Muthollib. Maka dengan amat murka, kakek Nabi ini memberanikan diri untuk meminta kembali unta-unta yang dirampas Abrahah. Demi untuk mendapatkan kembali harta bendanya,Muthallib pun mengunjungi tenda peristirahatan Abrahah seorang diri tanpa pengawalan. Dan dialog pun terjadi di antara mereka.

"Ada perlu apa Anda menemui aku?" tanya Abrahah. "Anda telah merampas 200 ekor unta milikku dan 400 ekor unta milik penduduk Mekkah. Aku datang untuk meminta Anda mengembalikan semua itu kepada kami", jawab Muthallib. Abrahah terkejut dan tertawa terbahak-bahak sambil mengejek, "Anda ini aneh sekali. Saya datang hendak merobohkan Ka'bah, dan Anda datang kepadaku dengan urusan yang remeh? Dimanakah nyali dan harga diri Anda? Pantaskah Ka'bah yang Anda dan bangsa Arab yang dimuliakan itu sedang dalam keadaan bahaya, justru Anda hanya menuntut onta Anda dikembalikan??"

"Tentu saja", sanggah Mutthalib. "Unta-unta itu kepunyaanku dan penduduk Mekkah. Maka aku wajib memeliharanya. Sedangkan Ka'bah bukan kepunyaanku. Ka'bah adalah kepunyaan Allah, maka Dia-lah yang akan melindungi dan memeliharanya".

Kembali Abrahah tertawa terbahak-bahak seolah melecehkan perkataan Abdul Muthallib, "Apakah Allah yang konon pemilik Ka'bah itu akan mampu merintangiku menghancurkannya?"

"Aku tidak tahu, itu urusan Allah. Tapi aku yakin, Allah tidak akan membiarkan milik-Nya dinodai oleh siapa pun."

"Jadi Anda tidak ingin memintaku untuk menghentikan niatku menghancurkan Ka'bah?"
Abdul Muthallib menggelengkan kepala, "Tidak!."

Jawaban yang tenang dan meyakinkan dari Abdul Muthallib membuat Abrahah tidak tenang. Namun dia tidak peduli dengan kerisauannya. Meski hatinya di dera rasa was-was dan risau, namun Abrahah tetap melanjutkan niatnya dan segera memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan unta-unta bangsa Arab, kemudian menyelesaikan misinya yaitu menghancurkan Ka'bah.

Detik-detik penghancuran pun tiba, Abrahah dan pasukan bergajah nya mulai mendekati Ka'bah. Abrahah merasa yakin bahwa dia akan dapat menghancurkan Ka'bah dengan sangat mudah. Namun apa yang terjadi selanjutnya?? Kekuasaan dan pertolongan Allah pun tiba. Di awali dengan enggan nya gajah-gajah tersebut menyentuh Ka'bah, seolah-olah gajah-gajah itu tahu bahwa sebentar lagi mereka akan mengalami nasib tragis dan mengerikan.

Benar saja, gerombolan burung-burung Ababil yang berjumlah, ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan telah melayang-layang tepat di atas mereka. Jumlah burung sebanyak itu bagaikan kumpulan awan hitam pekat yang mengandung petir dahsyat yang siap menyambar musuh-musuh Allah.

Di antara paruh-paruh dan kaki-kaki Ababil itu terdapat bara api yang sangat panas yang berasal dari kerikil-kerikil neraka. Apa yang dilakukan Ababil? Ternyata bara api itu mereka jatuhkan tepat di objek sasarannya,yaitu musuh Allah, Abrahah dan pasukannya. Satu per satu mereka dihujani bara api. Satu bara api yang sebesar kerikil itupun mampu melelehkan kulit-kulit tentara Abrahah dan menghanguskan tubuh-tubuh mereka dan hancurlah mereka sebelum mereka berhasil menghancurkan Ka'bah.

Demikianlah kisah Ababil dalam sejarah. Dan kisah tersebut benar-benar nyata. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa hikmah yang terkandung di dalamnya. Kisah tersebut mengajarkan kita untuk meyakini bahwa kekuasaan Allah dan kekuatan-Nya sangat besar dan tak terkalahkan. Yakinlah bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat terhadap hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan sabar dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Renungkan lah.. Wallahu'alam.. (sumber FB Hijaber)